“Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua”
Begitulah kata-kata dahsyat yang diucapkan oleh seorang Abu Bakar ash-Shidiq ketika beliau menyampaikan pidatonya sesaat setelah diangkat sebagai kholifah pengganti Rasulullah SAW. Sungguh penuh dengan integritas dan idealisme.
Seorang pemimpin pada hakekatnya bukanlah seseorang yang perlu diistimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanah,
KAMMI organisasi besar berperan sebagai harakah tajnid dan harakah amal, besarnya organisasi harus sinergis dengan kepemimpinan yang dipimpin, orang berjiwa besar dan visioner yang cocok menjadi seorang pemimpin, pemimpin yang KAMMI impikan terhadap kader-kadernya, yaitu sosok pemimpin "MUSLIM NEGARAWAN" yang penuh inovasi dan kreasi dalam menangani masalah, isu-isu yang beredar dalam suatu bangsa (negeri),
Besok muswil kamwil jabar di Garut, mari pilih sosok pemimpin ideal (shaleh) yang bisa membawa organisasi ini besar dan terus bergerak dalam koridor kebenaran guna mewujudkan kesejahteraan, barakallah siapapun yang jadi pemimpinnya terus bergerak dan menengkan masa depan....
Inilah ciri-ciri pemimpin baik dan ideal menurut (Stephen R. Covey)
1--Mereka terus belajar.
Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang
tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat
yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka
juga membesar.
Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti
pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya,
ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.
2--Mereka berorientasi pada pelayanan.
Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan
karier.
Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan
melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan
untuk memikul beban orang lain.
Pemimpin yang tak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan.
Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau
menerima tanggung jawab moral,
pelayanan, dan sumbangsih.
3--Mereka memancarkan energi positif.
Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang
menyenangkan dan bahagia.
Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan
mempercayai.
Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di
sekitarnya.
Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah,
untuk menghadapi
dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.
4--Mereka mempercayai orang lain.
Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain
mempunyai potensi yang tak tampak.
Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan
manusiawi.
Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini
membuat mereka tidak menjadi naif.
5--Mereka hidup seimbang.
Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau
menolak sama sekali.
Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya. Ini membuat diri
mereka seimbang,
tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran,
mereka tidak gila kerja,
tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian
mereka jujur pada diri
sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal
yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.
6--Mereka melihat hidup sebagai sebuah petualangan.
Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini
selalu sebagai sesuatu yang baru.
Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam
diri, bukan luar.
Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan
cerdik.
Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun
fleksibel dalam menghadapi
hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang
berkelimpahan.
7--Mereka sinergistik.
Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis
perubahan.
Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik.
Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif.
Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang
memperbaiki
dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak
hanya memberi dan menerima sedikit.
8--Mereka berlatih untuk memperbarui diri.
Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi
kepribadian manusia: fisik, mental,
emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap.
Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan
untuk melayani yang sangat kuat pula.
(Stephen R. Covey)
Taufiq Hidayat (KAMDA Sumedang)